Pendaftaran KPM periode Semester Genap tahun akademik 2020/2021 sudah diumumkan. Diakui bahwa banyak informasi yang belum tersampaikan ke mahasiswa seputar pelaksanaan KPM yang tidak lama lagi dimulai. Buku panduan akan menyusul. Panitia KPM sedang proses penyiapannya. Semoga bisa kelar segera. Sambil menunggu hal tersebut, saya ingin berbagi pengalaman dan refleksi yang berbasis pada pelaksanaan KPM periode sebelumnya. Refleksi ini tentu saja hanyalah sebatas pengalaman pribadi. Bukan pandangan resmi LP2M.

KPM di masa pandemi memang pengalaman baru. Meski bukan sesuatu yang sama sekali baru. Periode lalu, tahun akademik 2020/2021, IAIN Langsa telah menyelenggarakan sistem KPM ini. Bukan model KPM konvensional sebagaimana sebelumnya. Untuk itu kiranya saya perlu menyampaikan beberapa hal yang merupakan percikan pengalaman dan refleksi dari pelaksanaan kegiatan serupa pada periode sebelumnya. Harapannya ini menjadi bahan pembelajaran untuk kesuksesan pelaksanaan KPM ini nantinya.

Pertama, sebelum mendaftar KPM, disarankan agar mahasiswa membaca buku petunjuk teknik pelaksanaan KKN sebagaimana diatur dalam keputusan Dirjen Pendis Nomor 3394 tentang KKN Masa Pandemi Covid-19, selanjutnya disebut KPM Masa Pandemi. Ini adalah kitab suci KPM model ini, selain tentu saja nanti ada petunjuk teknis yang diterbitkan panitia penyelenggara. Juknis 3394 dapat diunduh dengan mudah. Pelajari dengan cermat sistem dan aturan main dalam KPM model ini. Hal ini agar setiap mahasiswa tahu perbedaan KKN KS (Kerja Sosial) dan DR (Dari Rumah). Upayakan tidak mengisi google form sebelum benar-benar paham tentang regulasi tersebut. Jangan isi google form yang kami berulang-ulang, hanya sekali saja, karena hal sangat mengganggu kelancaran kerja panitia pelaksana.

Kedua, pembagian kelompok ditetapkan oleh panitia saat pembekalan KPM. Sekarang ini silahkan mendaftar aja sesuai dengan ketentuan yag diumumkan. Tidak usah dipikirkan masalah berkelompok dengan siapa. Sebab, KPM kali ini dilakukan di kampung halaman masing-masing mahasiswa. Bukan kayak KPM yang biasanya, dimana sekelompok tim ditempatkan di satu desa tertentu. Modelnya tidak begitu. Sebaliknya, peserta KPM akan melakukan KPM di kampung atau desa tempat tinggal masing-masing. Inilah yang dimaksud dengan KKN dari rumah.

Penetapan kelompok sebetulnya hanyalah masalah administratif pembimbingan semata: dimana sekitar 8-10 orang dikelompokkan dalam naungan satu orang DPL, dosen pembimbing lapangan. Anggota atau peserta KPM dalam satu kelompok ini bisa saja punya program yang beda dan program tidak berkaitan satu sama lain. Program kerjanya bersifat individu, karena KPM dilakukan dikampung halaman masing-masing. Hanya saja, dalam kelompok besar ini memang nanti akan dibentuk kelompok kecil untuk kepentingan penulisan artikal yang kompisisinya sekitar 2 atau 3 orang. Dua atau tiga orang ini nanti kerjasama dalam menulis satu artikel jurnal ilmiah dengan didimbing DPL. Itu saja. Maka, dalam satu kelompok DPL akan adalah sub-kelompok untuk penulisan artikel jurnal ilmiah. Dari satu DPM itu diperkirakan akan ada tiga sama lima kelompok penulis artikel jurnal ilmiah. Sedangkan program KPM secara keseluruhan tetaplah individual, dilakukan dari rumah (kampung) masing-masing.

Lalu bagaimana mahasiswa yang tidak di kampung halaman masing-masing, atau sedang domisili di Langsa? Prinsipnya, regulasinya adalah KPM dilakukan di kampung halaman masing-masing. Karenanya, selama KPM nantinya kita harapkan mahasiswa peserta KPM stay dikampung halaman masing-masing untuk melakukan program kuliah pengabdian masyarakat. Aktivitas KPM dilakukan sendiri-sendiri. Peserta KPM yang sendiri tersebut dituntut dapat bekerja sama dengan masyarakat dikampungnya sendiri dalam melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Karenanya dilakukan sendiri-sendiri (tidak berkelompok), tentu saja para peserta KPM tidak dituntut melakukan banyak kegiatan lapangan. Aktivitas yang terkait dengan pelaksanaan KPM nantinya banyak juga yang dapat diselesaikan dari rumah lantaran banyak kegiatan yang berbasis online. Menulis artikel jurnal ilmiah berbasis pengabdian masyarakat itu ada kegiatan pengabdiannya, dan tentu saja ada kegiatan menulisnya. Misalnya seperti itu.

Ketiga, setelah pengumunan calon peserta, nanti ada pembekalan. Pembekalan dilakukan pra KPM, tetapi merupakan bagian dari kegiatan KPM. Peserta KPM dibekali tentang teknik menyusun program, menulis karya ilmiah hasil pengabdian masyarakat, membuat video atau film, bikin flayer atau lainnya. Ini semua adalah unturan dari pencapaian pelaksanaan KPM. Jadi kemampuan dalam hal ini memang harus benar-benar disiapkan peserta KPM. Para peserta KPM wajib ikut kegiatan ini. Karena ada bobot penilaiannya (10 persen).

Meski sepuluh persen, ketentuan untuk lulus atau tidak lulus sebagai peserta KPM itu dipertimbangkan melalui tingkat keaktifan dalam mengikuti pembekalan yang diselenggarakan oleh panitia. Suatu hal perlu diinformasikan dalam system KPM ini, bahwa durasi waktu KPM di lapangan lebih singkat dari masa sebelumnya. Jumlah 45 hari diperhitungkan sejak masa pembekalan. Berbeda dengan sebelumnya, dimana 45 hari tersebut hanyalah masa berada di lapangan. Jadi, KPM sekarang waktunya menjadi lebih singkat. Karenanya, gunakan waktu sebaik mungkin agar target yang ditetapkan dapat tercapai selama waktu KPM.

Keempat, harus diakui bahwa KPM Masa pandemi dalam regulasi 3394 memang lebih ribet dibandingkan dengan KPM yang konvensional. Ribetnya terutama dalam soal besarnya luaran atau output yang harus dihasilkan peserta KPM. Pada KPM Masa Pandemi, ada beberapa hal yang dituntut, yakni (1) menulis artikel jurnal ilmiah, (2) menghasilkan produk digital atau esai yang dipublikasi dimedia massa cetak atau online, (2) menghasilkan laporan akademik atau laporan kegiatan KPM sebagaimana umumnya. Rincian penjelasannya begini.

a. Mahasiswa diminta menulis satu artikel jurnal ilmiah. Artikel tersebut ditulis secara berkelompok, terdiri dari dua atau tiga orang. Dua atau tiga orang tersebut berasal dari orang yang kelompok pembimbingannya sudah dibagi oleh panitia pelaksana. Meski demikian, pada beberapa kasus artikel jurnal ilmiah ini juga boleh ditulis secara individu.

Artikel ini ditulis sebagaimana lazimnya artikel jurnal ilmiah (silahkan pelajari apa yang dimaksud dengan artikel jurnal ilmiah). Penulisan artikel ilmiah ini adalah program utama, karenanya, menjadi sesuatu yang paling dituntut dari setiap mahasiswa yang melakukan KPM. KPM bisa gagal kalau tidak menghasilkan artikel ilmiah hasil pengabdian menyarakat. Alur penulisan artikel ini begini. Mahasiswa membuat program kegiatan pengabdian masyarakat yang dikategorikan program unggulan atau program utama. Lalu, dari pelaksanaan program kegiatan tersebut lalu ditulis dalam bentuk artikel ilmiah. Karenanya, program yang disusun haruslah program yang kreatif, menarik dan dapat ditulis sebagai artikel ilmiah yang layak terbit. Silahkan nanti konsultasi dengan DPL atau dosen pembimbing dalam proses penyusunan program dan penulisan artikel ini. Juga, nanti dalam pembekalan, peserta KPM akan dibekali dengan wawasan tentang bagaimana menyusun program kegiatan yang luarannya layak ditulis dalam bentuk artikel ilmiah.

b. Selain artikel jurnal, peserta KPM juga diminta menghasilkan produk digital seperti film dokumentar, video, flayer, poster, podcast, dan sejenisnya. Film pendek dokumenter yang temanya bisa sama dengan tema artikel atau pun tema yang lain. Misalnya mahasiswa membuat film tentang potensi wisata di desa yang menjadi lokasi KPM. Atau mendokumentasikan praktik syariat Islam di desa tersebut. Atau tema lainnya lainnya. Bebas. Film pendek dokumenter ini dibuat 7 sampai 10 menit. Namanya film dokumentar, dia harus punya alur cerita. Ada awalan dan akhirannya. Ada plotnya. Pesan yang hendak disampaikan harus jelas. Banyak video yang dibuat pada KKN sebelumnya tidak ada pesannya. Ini yang harus diperbaiki dalam KKN yang sekarang ini. Nanti pembimbing akan membekali bagaimana film, poster, podcast dan lain sejenisnya itu dibuat.

c. Produk digital sebagaimana dimaksud dipoin b tersebut bisa diganti dengan esai. Esai beda dengan artikel jurnal ilmiah. Esai itu menulis bebas. Semacam tulisan opini yang di koran itu. Sekitar 1500 kata. Atau bisa juga esai yang berbentuk reportase jurnalistik. Atau esai bisa juga berbentuk tulisan tentang pengalaman selama melakukan KPM. Esai tidak pakai referensi. Menulisnya bisa gaya bebas. Bukan seperti karya ilmiah yang memang ada ketentuan yang sudah baku dan formal, referensinya harus banyak dan lain sebagainya.

d. Ada hal lain yang nanti harus disiapkan peserta KPM. Yakni laporan akademik. Ini adalah laporan keseluruhan kegiatan KPM. Ini yang biasanya dibuat untuk diserahkan ke LP2M. Di sini peserta diminta membuat lapran tentang keseluruhan program kegiatan yang dilakukan selama KPM, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Nanti ada panduannya untuk membuat laporan akademik kegiatan KPM.

Keenam, saya ingin sarankan bahwa agar program yang dibuat itu bisa lebih dapat mendukung pencapaian luaran atau output dari KPM ini, maka KPM DR lebih efektif dibanding dengan KPM KS. Melalui KPM DR, peserta bisa lebih punya kesempatan mengumpulkan bahan untuk penulisan artikel jurnal ilmiah. Sementara KPM KS, kesempatan mengumpulkan datanya lebih sedikit, sehingga seringkali bahan atau data lapangannya tidak cukup untuk menulis artikel yang baik. Akhirnya artikelnya gagal karena tidak cukup bahan atau data. KPM KS ini cocok ketika situasi pandemic Covid-19 dengan memuncak, dan dipersiapkan khusus untuk mahasiswa fakultas kedokteran. Sementara itu sekarang pandemi Covid-19 trennya sudah menurun. Untuk lebih jelas KPM DR atau KS ini baca buku petunjuk teknis di 3394.

Jangan membuat banyak program kerja, tapi cukup satu program kerja sebagai program utama dan beberapa program kecil-kecilan lainnya sesuai kemampuan. Proker utama ini yang harus dipikirkan masak-masak, dan sesuai dengan konteks desa atau kampung halaman mahasiswa peserta KPM. Tema KPM sekarang ini adalah pemberdayaan masyarakat multisectoral berbasis potensi desa dan kearifan lokal. Artinya, program disusun sesuai dengan kondisi lokasi desa masing-masing. Mahasiswa peserta KPM didorong untuk dapat menyusun program utama yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan di desa. Karenanya, pelajari kondisi desa lokasi KPM, dan pilihlah program kerja yang dari pelaksanaannya dapat ditulis sebagai artikel jurnal ilmiah. Dari pergram kerja utamanya ini, atau sejalan dengan program kerja utama ini, teman-teman bisa membuat video atau film dokumenter, atau produk digital lainnya.

Ketujuh, penilaian dalam KPM pandemi adalah: (1) kehadiran dan partisipasi aktif dalam pembekalan sebesar 10 persen; (2) laporan akademik sebesar 20 persen; (3) artikel jurnal ilmiah sebesar 40 persen; dan produk digital berupa film, video, flayer atau poster dll sebesar 30 persen bobotnya. Nanti perincian ini semua diatur dalam buku panduan.

Kedelapan, pengalaman KPM sebelumnya, pencapaian output memang susah. Tapi harus disebutkan bahwa banyak juga hasil yang memuaskan bahkan melebihi target yang ditentukan. Ada artikel jurnal yang udah diterima jurnal dan nanti pada edisi Juni insyaallah terbit. Ada produk video yang keren-keren dan inspiratif, meski sangat banyak video yang sama sekali tidak memenuhi ketentuan. Ada juga esai yang pembacanya udah sampai 5000 view. Ini artinya artikel yang ditulis banyak yang membaca atau setidaknya melihat. Artinya, KPM Masa Pandemi ini memang menantang, dan membuka ruang kreatifitas yang cukup besar untuk menampilkan jati diri intelektualitas dan humanitas mahasiswa. KPM masa pandemi juga ramah milenial, artinya basis kegiatannya memang sesuatu yang sehari-hari para mahasiswa lakukan.

Sembilan, selamat ber-KPM ria. Silahkan mendaftar. Semoga sukses.

 

Muhammad Ansor, Sekretaris LP2M IAIN Langsa
https://orcid.org/0000-0002-7674-0326