Ada sesuatu yang beda dalam pengumuman Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) IAIN Langsa tahun 2021. Apabila pada periode sebelumnya panitia penyelenggara KPM hanya membuka penerimaan mahasiswa peserta KPM, maka pada periode KPM semester genap 2020/2021 yang akan berlangsung ini, dibuka pula rekrutmen Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Setiap dosen dapat mendaftarkan diri sebagai DPL melalu laman yang telah disediakan panitia, yakni: http://lp2m.iainlangsa.ac.id/pendaftaran-dpl-kpm-iain-langsa-semester-genap-2020-2021/

Pembukan rekrutmen DPL menandai suatu inisiasi baru. Dosen pendamping KPM yang sebelumnya direkrut melalui mekanisme penunjukan, maka semenjak periode yang akan berlangsung ini menjadi berbasis pendaftaran. Transisi dari penunjukan ke pendaftaran diharapkan membuka ruang otonomi setiap dosen untuk menentukan partisipasinya sebagai dosen pembimbing KPM. Dosen menjadi memiliki pilihan untuk menyatakan bersedia atau tidak bersedia menjadi mitra mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa.

Terkecuali itu, mekanisme ini juga diharapkan mampu menjaring sejumlah dosen yang selama ini luput dari ingatan ketika proses penjaringan pembimbing KPM. Selama ini LP2M sebagai penyelenggara KPM telah berusaha untuk semaksimal mungkin mendistribusikan kesempatan menjadi pembimbing secara setara dan berkeadilan. Namun, lazimnya manusia biasa, harus diakui bahwa terdapat beberapa dosen yang belum dapat terakomodasi dalam kegiatan tersebut.

Melalui mekanisme partisipasitoris ini diharapkan para dosen memiliki kesempatan yang berbasis otonomi individu dalam melibatkan diri pada aktivitas pengabdian masyarakat. Dosen memiliki kesempatan menentukan bersedia bergabung atau tidak bergabung sebagai mitra yang kolaboratif mahasiswa dalam melakukan pengabdian masyarakat. Kami dari LP2M IAIN Langsa berharap transisi dari penunjukan ke pendaftaran ini dibaca sebagai ikhtiar pencarian cara dalam meningkatkan kualitas kegiatan pengabdian masyarakat di LP2M. Kita mengharapkan dilihat sebagai bidah yang hasanah untuk peningkatan layanan pada setiap pemangku kepentingan.

Format pelaksanaan kegiatan KPM sejak 2020 memang berbeda dengan KPM pada masa sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia, telah mengubah segalanya. Masyarakat Langsa, salah satu kota propinsi Aceh, juga merasakan implikasinya. Pada masa awal kemunculan pandemi, KPM tematik semester genap tahun 2019/2020 yang sebelumnya dilakukan secara konvensional yakni dengan menerjunkan mahasiswa langsung ke masyarakat, di tengah perjalanan berubah menjadi KPM dari rumah. Pada semester ganjil 2020/2021, KPM sepenuhnya dilakukan dari kampung halaman masing-masing mahasiswa. Baru-baru ini, kami di LP2M mendapatkan fatwa dari pimpinan kampus bahwa KPM semester genap 2020/2021 juga diselenggarakan dengan mekanisme yang sama.

Adalah merupakan pengetahuan umum di kalangan civitas akademika PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) bahwa keputusan Direktur Jenderal Diktis Nomor 3394 tahun 2020 tentang KKN di Masa Pandemi Covid-19 telah menggariskan bahwa kegiatan kuliah pengabdian masyarakat dituntut beradaptasi dengan situasi. Kegiatan mobilisasi massa yang berskala besar tidak boleh dilakukan. KPM tidak lagi dilakukan secara berkelompok, tapi bersifat mandiri. Bukan diturunkan ke kampung tertentu melainkan dilakukan di kampung halaman masing-masing mahasiswa. Prinsip kegiatannya bersifat individu. KPM lebih diarahkan untuk mendorong mahasiswa untuk melakukan produktivitas keilmuan berupa penulisan karya tulis ilmiah, opini, atau pelbagai kreativitas yang berbasis produk digital. Karena itu, kreativitas yang identik dengan kegiatan keseharian sebagian generasi milenial milenial seperti membuat video atau film dokumentar, podcast, poster yang dapat dishare melalui media sosial diadopsi menjadi bagian dari proses pengabdian masyarakat.

Juknis 3394 menyebutkan bahwa asas KPM adalah bersifat keterpaduan aspek tridharma perguruan tinggi yang meliputi bidang pendidikan, pengajaran maupun pengabdian. Karena itu pula, KPM adalah perpaduan antara pengabdian, penelitian dan publikasi ilmiah. KPM dilaksanakan sebagai bentuk penguatan atas kepedualian melawan bencana Covid-19, mencari pejelasan ilmiah terkait relasi antara agama dan (sains), mendorong sikap moderasi beragama dan dakwah keagamaan yang berbasis media sosial. Mahasiswa didorong mengembangkan produktivitas dan kreativitas ilmiah sesuai dengan basis keilmuan atau program studi masing-masing.

Ada dua model yang diperkenalkan dalam KPM dalam format ini, yakni KPM Dari Rumah (selanjutnya disebut KPM DR), dan KPM Kerja Sosial (selanjutnya disebut KPM KS). KPM DR diwujudkan dengan cara melakukan penguatan atas kesadaran dan kepedulian terhadap pandemi Covid-19, relasi agama dan kesehatan, moderasi beragama ataupun dakwah keagamaan yang dilakukan dengan memanfaatkan media sosial seperti Instagram, WA, Twitter, Faceebook dan tentu saja You Tube. Selain itu, KPM DR juga dapat dilakukan dengan melakukan produktifitas keilmuan oleh mahasiswa melalui penulisan buku, book chapter, artikel jurnal ilmiah, opini, reportase dan lain sejenisnya yang disesuaikan dengan program studi masing-masing.

Adapun KKN KS direalisasikan dengan cara “terlibat aktif dalam pencegahan dan penanganan penyebaran Covid-19, pendampingan di masyarakat yang bertolak dari basis keilmuan masing-masing mahasiswa baik dilakukan dengan monodisiplin ataupun interdisipliner dengan dikerjasamakan dengan kementerian/lembaga atau gugus tugas resmi, termasuk pada PTKI masing-masing di bawah pengendalian dan pengawasan pihak yang berwenang serta memenuhi protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.” Penjelasan tentang tentang KPM KS ini saya kutip langsung dari buku Petunjuk Teknis 3394 selain agar substansi dari kuliah dan pengabdian model ini dapat dipahami apa adanya; juga karena saya masih kesulitan menyampaikan KPM model ini dalam bahasa yang lebih sederhana.

Pada Juknis 3394 disebutkan pula bahwa KKN KS ini diformat sebagai saluran keilmuan bagi mahasiswa yang berbasis program studi rumpun kedokteran, sains dan teknologi, atau interdisipliner dari berbagai program studi yang saling berkaitan. Adapun mahasiswa non rumpun kedokteran dapat melaksanakan kegiatan ini melalui pelibatan diri secara langsung dalam kegiatan yang dipimpin gugus tugas pencegahan dan penanganan Covid-19.

DPL atau Dosen Pendamping Lapangan dalam KPM model ini bertugas untuk mengadvokasi mahasiswa dalam pencapaian target atau luaran yang telah ditentukan. Pada KPM DR, luarannya adalah menghasilkan artikel jurnal ilmiah yang berbasis pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat, atau menelurkan produk digital yang kreatif dan ilmiah.

Saya menilai bahwa target KPM DR maupun KS untuk menghasilkan artikel jurnal ilmiah dapat digambarkan sebagai proyek hibrida yang ambisius. Mahasiswa diarahkan untuk menulis artikel ilmiah yang layak dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Luaran seperti ini hemat saya lebih berat dibandingkan penulisan skripsi. Sementara dalam penulisan skripsi sifatnya adalah pelatihan dan pembimbingan dalam produksi karya ilmiah yang tidak mestui dipublikasikan; artikel ilmiah yang menjadi produk KPM ini dituntut untuk layak dipublikasikan.

Harus diakui bahwa tuntutan ini memang tidak bersifat fardlu ain (kewajiban individual), melainkan lebih bersifat fardlu kifayah. Meskipun demikian, dosen pembimbing KPM diharapkan mengadvokasi mahasiswa menghasilkan karya ilmiah yang seandainya disubmit ke jurnal yang ada di Indonesia itu tidak menjadi spam (sampah). Mereka tidak terganggu dengan kiriman mahasiswa IAIN Langsa. Untuk itulah dosen pendamping lapangan menjadi mitra strategis bagi mahasiswa dalam aktifitas kepenulisan ilmiah tersebut baik secara teknis maupun substantif. Secara teknis dosen pendamping mengadvokasi teknik penulisan karya ilmiah yang baik dan standar; sementara secara substantif diharapkan dapat menjadi fasilitator kelahiran ide-ide kreatif dan inovatif dalam produksi keilmuan melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

Demikian pula dalam hal menghasilkan produk yang berbasis digital, mahasiswa membutuhkan pembimbingan dari dosen secara aktif dan nyata. Hal ini selain agar produk digital yang dihasilkan mahasiswa ini inspiratif juga agar tidak terperangkap dalam praktik penyebaran konten yang mengandung hoaks (kabar palsu). Dosen pembimbing dalam KPM yang berbasis daring ini diharapkan dapat mengadvokasi agar setiap produk yang diluncurkan mahasiswa melalui media sosial memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat luas. Karenanya, produk digital apapun yang disiarkan mahasiswa atas nama KPM IAIN Langsa hendaknya terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pendamping bersangkutan.

Saya menyebut tuntutan yang digariskan dalam KPM sesuai Juknis 3394 ini memang rewel dan lebai. Tuntutannya jauh lebih ribet dibandingkan KPM yang konvensional. Sebut saja misalnya apabila luaran yang dihasilkan dalam KPM konvensional yang sebelum masa pandemik Covid-19 hanyalah laporan kegiatan kelompok dan individu yang menjadi basis penilain dosen atas kinerja mahasiswa; maka dalam KPM berbasis daring yang sekarang ini lebih banyak dan lebih berat. KPM dalam Juknis 3394 menuntut mahasiswa menghasilkan: (1) artikel jurnal ilmiah yang layak dipublikasikan, (2) konten digital yang disiarkan melalui media sosial atau esai/opini/reposrtase yang diterbitkan melalui media cetak atau online; dan (3) laporan akademik atau laporan kegiatan yang lebih kurang sama dengan KPM yang konvensiaonal. Jadi ada tambahan dua poin dibandingkan sebelumnya, yakni dua nomor yang disebutkan pertama. Terkecuali itu tentu saja, mahasiswa KPM juga dinilai berdasarkan tingkat keaktifannya dalam proses kegiatan iniL: suatu hal yang menuntut porsi dan kerja keraas tersendiri (meski tidak besar). Sekedar menambahkan informasi, penilaian untuk aspek sebagaimana yang disebutkan terakhir ini bukan kewenangan DPL melainkan panitia penyelenggara.

Untuk itulah kami melihat signifikansi transformasi proses rekrutmen KPM dari yang sebelumnya berbasis penunjukan ke pendaftaran. LP2M dalam hal ini ingin berbagi beban dan tanggung-jawab dalam pencapaian luaran yang berbasis pada partisipasi aktif dalam inisiasi pembimbingan. Distribusi tanggung-jawab dan beban ini kami percaya sebagai langkah awal melahirkan model kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang partisipatoris dan berkualitas. Distribusi dan partisipatori ini, kalau diizinkan meminjam pemikiran Nancy Fraser—seorang feminis dan filosof berkebangsaan Amerika abad 20 yang banyak dipengaruhi Jurgen Habermas, Michel Foucault, maupun Karl Marx—merupakan bagian dari pencapaian rekognisi. Sebagaimana sering dikatakan Muhammad Suhaili Sufyan, Wakil Rektor Bidang Akadmik dan Pengembangan Kelambangaan IAIN Langsa, untuk meraih prediket unggul, semua civitas akademika perlu berikhtiar agar reputasi kampus tercinta ini mendapatkan rekognisi baik nasional maupun internasional.

Sebagai langkah pertama kami mohon bantuan dan kesediaan para dosen untuk mendaftar sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dengan mengisi form registrasi yang disediakan. Hal-hal yang terkait dengan ketentuan dan persyarakatan yang diperlukan juga diinformasikan pada laman yang sama. Tentu saja, semua staff LP2M akan dengan senang hati melayani dan menjelaskan informasi yang para dosen perlukan.

Perlu digaris-bawahi bahwa pada KPM model pendemi ini posisi dosen adalah pendamping kegiatan pengabdian yang dilakukan mahasiswa. Dosen bukan supervisor juga bukan hanya semata pembimbing. Yang pertama mengandaikan dosen sebagai mandor, suatu hal yang (maaf) melekat dengan kerja-kerja proyek. Dosen dalam kegiatan pengabdian juga tidak diistilahkan sebagai pembimbing: suatu hal yang mengandaikan posisi yang lebih superior dengan mahasiswa. Pada KPM yang digariskan dalam Juknis 3394, posisi dosen adalah pendamping lapangan. Dosen merupakan mitra diskusi mahasiswa yang setara dalam kegiatan pengabdian masyarakat, penulisan karya ilmiah maupun pembuatan produk digital yang kreatif dan akademis yang berbasis kegiatan humanitarian tersebut. Pendek kata, dosen berada pada posisi yang terlibat langsung dalam proses pencapaian luaran atau output kegiatan pengabdian masyarakat.

Untuk itu pula, dalam luaran karya ilmiah ini, nama dosen dapat disandingkan dengan mahasiswa dalam publikasi luaran. Publikasi artikel ilmiah mahasiswa misalnya dapat dilakukan melalui mekanisme kolaboratif antara mahasiswa dan dosen. Hal ini tentu dilakukan atas kesepakatan yang egaliter antara kedua belah pihak. Kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam publikasi artikel jurnal ilmiah yang berbasis pengabdian masyarakat ini merupakan kerja yang berat dan menantang. Tapi —meminjam istilah dalam film milenial yang bersetting tahun 1990-an— bukan hanya Dilan yang bisa melakukannya. Setiap kita memiliki kompetensi dan kapabilitas. Terima kasih. []

 

* Muhammad Ansor, (Sekretaris LP2M IAIN Langsa)
https://orcid.org/0000-0002-7674-0326